Site icon KutusKutus.Top

Mengajari Buah Hati Cerdas Bersosial

Mengajari Buah Hati Cerdas Bersosial – Anak adalah anugerah yang sangat berarti bagi orang tua. Maka sudah seharusnyalah kita menjaganya dengan baik. Tetapi, menjaga anak tidak berarti kita harus terus mengurungnya, bukan? Pernah saya mendengar keluh kesah seorang ibu yang merasa anaknya selalu tertular penyakit teman. Lalu, dia tidak mengizinkan anaknya keluar rumah, dan menyuruh dia bermain-main sendiri di dalam rumah. Pendek kata, dia ingin agar anaknya steril. Di lain kesempatan, ada bapak-bapak yang bercerita kalau anaknya tidak boleh keluar rumah karena orang-orang di sekitarnya sering berkata-kata kotor. Menurutnya, lebih baik si anak bermain game seharian di rumah.

Menurut Anda, bijakkah tindakan kedua orang tua tadi? Bagaimanapun, anak butuh untuk bersosial, berbaur dengan lingkungannya. Ada baiknya kita renungkan pemikiran-pemikiran mengenai Mengajari Buah Hati Cerdas Bersosial berikut.

1. Sosialisasi dalam Keluarga

Sebelum melepas buah hati kita bersosial ke dalam lingkungan sekitar, terlebih dahulu kita mengolah sosialisasi intern keluarga. Lantas seperti apa wujud sosialisasi keluarga tersebut? 

  1. Jangan mematahkan komunikasi dalam keluarga!

Saling menegur dan menyapa, bahkan bertukar pikiran dan rasa sangat dibutuhkan untuk menguatkan rasa persaudaraan. Jangan jadikan rumah seperti terminal, tempat berhentinya orang lalu lalang tanpa bertegur sapa. Sungguh menyiksa dan tak mengenakkan hati, bukan? Oleh karenanya, sedari awal orang tua harus berjuang untuk membangun komunikasi yang indah dalam keluarga. Jangan sampai anak takut berbicara pada orang tua, atau sebaliknya, orang tua gengsi bercengkerama dengan anak.

Kebersamaan dalam keluarga dapat diciptakan melalui makan bersama sambil berbagi cerita. Nonton TV bersama atau membersihkan kebun bersama pun dapat kita lakukan dengan penuh canda.

Anak harus dilatih untuk menghormati orang tua atau pun saudaranya. Bentuk penghormatan itu macam-macam, seperti: berbicara yang sopan pada orang tua, berpamitan atau mencium tangan orang tua ketika hendak sekolah atau bermain, serta berbicara baik terhadap kakak dan adik.

Ajari anak tidak berteriak-teriak ketika ayahnya sakit. Dan suruhlah dia mengambilkan obat dan minuman untuk ayahnya.

Biasakan Anda untuk mengungkapkan rasa sayang melalui pelukan dan ciuman. Maka, buah hati Anda pasti terbiasa juga melakukannya untuk Anda dan yang lainnya.

Ajarkan pada si buah hati untuk selalu menyelesaikan masalah dengan baik untuk menghindari pertengkaran dan permusuhan. Tentu saja orang tua harus berani untuk tidak bertengkar atau ribut di hadapan anak.

Keluarga adalah tempat yang paling awal untuk memulai pembelajaran si buah hati bersosialisasi. Oleh karenanya, jangan ciptakan kekakuan dalam keluarga karena akan menghambat perkembangan jiwa anak.

2. Mengenalkan Nilai-Nilai Positif dalam Bergaul

Setelah anak cerdas bersosialisasi dalam keluarga, mulai ajarkan padanya untuk bergaul dengan teman-teman atau orang-orang di luar rumah. Sebelum melepas dia, bekali pula dengan tata-cara bergaul yang baik. Apabila sosialisasi dalam keluarga sudah mendarah daging, tentu si buah hati akan mudah juga beradaptasi dengan lingkungan di luar.  

Suruh dia memperhatikan bekal-bekal utama berikut.

  1. Cerdas bersopan-santun

Ketika anak bertemu dengan orang lain, ajari dia untuk selalu menyapa. Sapaan tidak harus dengan perkataan. Lewat senyum pun sapaan akan sampai dan mendapat respons positif.

Ajari buah hati Anda untuk bersikap hormat dengan orang yang lebih tua.  Dia harus berbicara dengan kata-kata yang sopan dan tidak membentak-bentak. Bila buah hati Anda masih kurang sopan, jangan bosan-bosan mengingatkannya. Jangan sampai dia dicap sebagai anak yang kurang ajar. Memang, di sini dibutuhkan kesabaran ekstra dari orang tua karena banyaknya sinetron yang “tertonton” anak dan memberi pelajaran bentak-membentak yang teramat syahdu.

Ajari anak untuk tanggap ketika melihat teman atau tetangga sakit. Ajak dia untuk menengok dan memberi penghiburan melalui canda dan senyum.

3. Kata-Kata Sakti

Saya mendapat inspirasi dari anak saya tentang empat kata sakti yang dikenalkan oleh gurunya. Semua orang tua pasti pernah mendengarnya dan tahu pasti bahwa kata-kata itu memang patut dipegang. Walaupun istilah kata sakti ini saya dapatkan dari anak, tapi saya tidak malu untuk mengakuinya, karena saya harus menghargai bekal ilmu yang telah didapatnya.

  1. Maaf

Kata maaf harus selalu terucap bila anak kita berbuat kesalahan pada orang lain. Untuk itu, ajari dia mengakui dan menyadari kekeliruannya dalam bertingkah laku atau bertutur kata. Bila dia secara tidak sengaja membuat temannya terjatuh, suruhlah pula agar segera mengucap “maaf”. Ajari pula permintaan maaf secara ikhlas, agar teman segera memberi maaf padanya.

Setiap kali anak diberi sesuatu oleh orang lain, ajari dia untuk berterima kasih. Begitu pula saat dia mendapat bantuan dalam melakukan aktivitasnya, maupun ketika dia mendapat pujian. Pendek kata buah hati kita harus cerdas mengeluarkan kata sakti “terima kasih”.

Biasakan mengucapkan kata “permisi” bila berjalan lewat depan orang yang lebih tua. Maka, ia akan menjadi anak yang disegani karena tahu sopan santun. Begitu pula ketika dia berkunjung ke rumah saudara, tetangga, atau teman sekalipun. Dengan belajar menghormati orang lain, berarti dia juga belajar menghargai dirinya sendiri.

Beri pengertian pada buah hati Anda, bahwa manusia hidup saling membutuhkan satu sama lain. Suatu saat, dia akan meminta bantuan orang lain. Ajarilah si buah hati mengawali dengan kata “tolong” saat ia meminta bantuan teman atau orang lain. Dengan demikian, dia belajar untuk tidak urakan dan suka main perintah seenaknya saja.

Singkat kata, buah hati kita harus kita didik untuk selalu menerapkan dengan baik empat kata sakti tersebut. Dengan demikian, dalam lingkungan pergaulannya, si buah hati menunjukkan bahwa dia terdidik dan santun.

4. Pandai Bertoleransi

Berikan pemahaman nilai toleransi sedini mungkin pada buah hati Anda. Ini harus benar-benar dirintis dari awal agar dia menjadi anak yang menyenangkan bagi lingkungannya. Bila temannya ingin meminjam mainan, didiklah dia agar tidak pelit. Bila temannya sedang sakit, ajak untuk menjenguk dan memberi penghiburan sesuai dengan kemampuan dan takaran usianya.

Dengan toleransi yang kuat, nantinya si buah hati akan tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang bermental positif. Dia pun akan siap sedia membantu teman-teman yang kesulitan dalam belajar, walau dia menjadi juara. Dan kelak, jika menjadi pemimpin, dia pun akan cerdas bertoleransi dengan relasi maupun bawahannya. Jika atasan tidak dapat bertoleransi, maka bawahan pun enggan mempersembahkan hasil optimal dalam bekerja. Dan, kesuksesan kepemimpinan dan pekerjaan sulit didapat.

Demikianah tadi ulasan kita kali ini mengenai Mengajari Buah Hati Cerdas Bersosial. Janganlah selalu mengekang buah hati Anda! Seperti layaknya Anda bermain layang-layang, biarkan dia menjulang ke atas menikmati cakrawala. Tapi, kendalikan selalu si buah hati dengan baik seperti Anda menarik dan mengulur benang agar layang-layang bisa terbang dengan baik. Jangan terlalu sering menarik atau mengulur benangnya, biarkan layang-layang menikmati permainannya, melihat keindahan panorama. Ada saatnya Anda bisa menarik pulang dalam genggaman cinta Anda, dan memeluknya penuh kehangatan dan sayang. Esok, dia akan kembali menikmati permainannya dan kita akan kembali siaga untuk mengendalikannya.

Exit mobile version