fbpx

Tips dan Strategi Memarahi Si Kecil – Anak-anak sering kita dapati bertingkah polah yang membuat kita sebagai orang tuanya merasa marah atau jengkel. Mereka biasa rewel, menggerutu, mengomel atau bahkan menolak perintah orang tuanya. Tingkah polah mereka ini tentu saja membuat orang tua ingin memarahi mereka. Bagaimana cara kita menghadapi hal yang demikian?. Bagaimana cara Tips dan Strategi Memarahi Si Kecil yang benar?. Simak uraian lengkap di bawah ini.

Sebelum memarahi mereka, sebaiknya orang tua perlu mengetahui dahulu penyebabnya. Anak dapat menjadi rewel, menggerutu, mengomel, atau menolak perintah orang tua karena berbagai sebab. Perilaku menantang bisa jadi merupakan tanda-tanda kegusaran anak-anak akan kesulitan-kesulitan yang ditemuinya di sekolah maupun di lingkungan bermainnya, atau bisa juga karena mereka merasa letih, lapar, atau mengantuk. Bisa jadi juga apa-apa yang mereka lakukan adalah cara untuk menarik perhatian kedua orang tuanya.

Untuk anak usia di bawah 4 tahun, orang tua dapat membujuk untuk menenangkan anak. Pada umumnya masih agak sukar untuk membuat anak bicara tentang penyebabnya ia bertingkah. Untuk anak dengan usia yang lebih besar tentu bisa diobrolkan bersama dalam suasana santai dan nyaman tanpa emosi.

Marah kepada anak sebenarnya boleh saja, karena dengan menunjukkan ekspresi kemarahan, anak-anak akan belajar mengenal beragam ekspresi emosi. Mereka pun akan paham kalau tingkah polahnya tidak berkenan bagi kedua orang tuanya. Kendati demikian, bukan berarti orang tua pantas marah setiap kali anak berbuat kesalahan. Marahlah jika memang diperlukan, tapi tidak disarankan untuk membentak, mengomel, atau berbicara kasar kepada anak, apalagi sampai melakukan kekerasan fisik terhadap anak.

Kebiasaan orang tua membentak, akan menyebabkan anak merasa di benci orang tuanya. Hal ini tentu akan mengganggu perkembangan psikologis anak, yang tentu saja akan juga mengganggu proses tumbuh kembang si anak. Hal yang sama juga berlaku jika anak mendapatkan perlakuan kekerasan fisik akibat kemarahan orang tua. Kekerasan fisik ini selain menyebabkan sakit secara fisik juga akan menyebabkan si anak sakit secara psikologis. Jika kekerasan fisik seperti ini sering terjadi pada si anak, bisa jadi si anak akan merasa tidak aman jika berada di rumah karena perlakuan kasar orang tuanya.

Oleh karena itu, hindarkan hukuman yang sifatnya kekerasan fisik dalam pola pengasuhan anak anda. Sebagai gantinya, orang tua dapat menahan sesuatu yang menjadi hak anak. Misalnya ketika anak telah selesai menghabiskan jatah makannya, ibu bisa saja menunda pemberian pudding coklat kesukaan si anak. Hal ini akan menimbulkan perasaan efek rugi pada diri si anak, dengan begitu akan menumbuhkan rasa lebih bertanggung jawab dan menghargai sesuatu pada diri si anak.

Sebagai orang tua barangkali pernah mendapati si kecil masuk rumah tanpa melepas sepatunya ketika pulang sekolah?. Tentu hal tersebut membuat umi tidak senang, apalagi ketika melihat si kecil yang masih bersepatu kemudian duduk di kursi tamu. Alas kaki yang kotor seperti itu memang tidak pantas dikenakan di dalam rumah. Daripada umi mengomel dan marah-marah yang tidak jelas, mendingan umi menunjukkan ketidaksetujuan pada perilaku si kecil. Dengan umi berkata secara tegas, misalnya : “Copot sepatumu atau bunda yang akan mencopotnya!”.

Intonasi tegas akan membuat si kecil menangkap sinyal bahwa orangtuanya sedang marah. Cara tersebut merupakan salah satu strategi marah tanpa harus berkata kasar. Reaksi di dalam hati si kecil pun tetap akan sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya. Interaksi ini dibutuhkan agar terjalin komunikasai antara orang tua dan anak. Sehingga di harapkan si kecil bisa mengetahui ekspresi kemarahan kedua orang tuanya.

Ketika bunda dalam kondisi lelah atau capai, rasa amarah biasanya lebih mudah meluap. Pada kondisi seperti ini peran sang ayah harus bisa mengambil peran mengamankan situasi. Langkah yang paling memungkinkan barangkali adalah menenangkan si kecil dan memberi kesempatan bunda agar beristirahat, demikian juga jika terjadi sebaliknya. Hindari upaya saling menyalahkan diantara kedua orang tua. Jika salah satu diantara anda (ayah atau bunda) mulai menjurus kearah pelampiasan emosi yang negatif, berarti bahwa bunda atau ayah sudah tidak bisa mengatasi situasi. Jadi salah satu pasangannya harus segera mengambil alih situasi untuk menegur si anak.

Bagaimana jika ayah dan bunda keduanya dalam kondisi amarah yang mudah meluap? Sebaiknya sebisa mungkin kita sebagai orangtua meredam amarah dengan menenangkan diri. Biarkan si kecil mengeluarkan emosinya terlebih dahulu. Setelah emosi si kecil mereda, barulah orang tua mengambil alih peran pengasuhannya. Mengambil posisi jarak dari si kecil yang sedang bertingkah bisa juga membantu meredakan ketegangan emosi yang meluap. Biasanya setelah di tinggalkan, si kecil akan segera mendatangi orang tuanya untuk mendapatkan pelukan atau belaian. Di saat seperti ini, barulah kita sebagai orangtua bisa memberikan pengertian-pengertian kepada si kecil, tentu dengan bahasa yang mudah di mengerti mereka.

Demikianlah tadi ulasan kita mengenai Tips dan Strategi Memarahi Si Kecil yang tentunya penting untuk diperhatikan bagi para orang tua. Semoga informas diatas dapat bermanfaat dan menambah referensi dalam memberikan yang terbaik bagi buah kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *